Menguasai Ilmu, Menikmati Akhirat

teruslah-menuntut-ilmu

Jika ingin menguasai dunia, kuncinya adalah ilmu.
Jika ingin menguasai akhirat, kuncinya adalah ilmu.
Jika ingin menguasai dunia dan akhirat, maka kuncinya adalah ilmu.

Kata-kata di atas dapat membuat kita merefleksikan sejenak tentang ilmu, dunia, dan akhirat. Mungkin tidak langsung tentang bagaimana caranya, tapi cukup mengingatkan tentang kewajiban menuntut ilmu. Bahwa menuntut ilmu adalah ibadah. Menuntut ilmu merupakan kewajiban bagi semua muslim, baik ilmu dunia maupun ilmu agama. Karena ilmu agama adalah tutunan hidup hingga mati.

Menuntut ilmu agama adalah amalan yang amat mulia. Keutamaan yang disebutkan oleh sahabat Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu,  “Tuntutlah ilmu (belajarlah Islam) karena mempelajarinya adalah suatu kebaikan untukmu. Mencari ilmu adalah suatu ibadah. Saling mengingatkan akan ilmu adalah tasbih. Membahas suatu ilmu adalah jihad. Mengajarkan ilmu pada orang yang tidak mengetahuinya adalah sedekah. Mencurahkan tenaga untuk belajar dari ahlinya adalah suatu qurbah (mendekatkan diri pada Allah).

Ada satu firman Allah dalam surah Al Kahfi ayat 109 yang artinya : ‘Katakanlah (Muhammad), “Seandainya lautan menjadi tinta untuk (menulis) kalimat-kalimat (Tuhanku), maka pasti habislah lautan itu sebelum selesai (penulisan) kalimat-kalimat (Tuhanku), meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak itu (pula).’

Ada pula firman Allah dalam surah Luqman ayat 27 yang artinya : ‘Dan seandainya pohon-pohon di bumi menjadi pena dan lautan (menjadi tinta), ditambahkan kepadanya tujuh lautan (lagi) setelah (kering)nya, niscaya tidak akan habis-habisnya (dituliskan) kalimat-kalimta Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar, Maha Melihat.’

Ilmu Allah sangatlah luas. Kita tidak akan habis-habisnya untuk mempelajari ilmu agama. Dari bangun tidur, akan tidur, ataupun saat tidurpun telah ada ilmunya di Alquran. Mengerjakan ilmu agama bukan hanya sekedar untuk menggugurkan kewajiban, namun paling tidak ada ‘bekas’ kita melakukan ibadah. Ilmu dunia memang sangatlah penting untuk mengelola ‘dunia’. Namun ilmu agama juga tak kalah pentingnya. Jika ilmu agama saja belum mendapatkannya, maka akan sulit untuk menerapkan ilmu dunia dengan baik. Maka, haruslah seimbang antara ilmu dunia dan imu akhirat.

Sebagai contoh teladan adalah Imam Syafi’i.

Di masa kecilnya Imam Syafi’i hidup miskin. Namun ia memiliki ibu yang luar biasa. Sang ibu yang berasal dari Azad merupakan muslimah yang ahli beribadah dan berakhlak mulia. Jika kemudian Syafi’i menjadi ulama dan imam besar, itu adalah saham ibunya yang mendidik Syafi’i sejak kecil dan mengirimnya ke Makkah untuk menimba ilmu dari para ulama serta mencari garis nasabnya agar bisa meneladani kemuliaan mereka.

Di Makkah itulah, Imam Syafi’i yang masih berusia tujuh tahun telah hafal Al-Qur’an. Saat gurunya terlambat, Syafi’i kecil lah yang mengajari anak-anak lainnya. Ia biasa menghafalkan seketika saat gurunya mendiktekan. “Tak layak bagiku untuk memungut bayaran sepeserpun darimu,” kata sang guru mengetahui keistimewaan dan ‘jasa’ Syafi’i kecil.

Memasuki usianya yang kedelapan, Syafi’i kecil sudah terbiasa bergabung dengan para ulama di Masjid. Ia mulai menghafal hadits. Ia menghafalnya dari apa yang ia dengarkan. Syafi’i kecil juga suka ke perpustakaan untuk membaca catatan dan berbagai manuskrip. Dari sinilah Imam Syafi’i hafal Al-Muwatha’ pada usia 10 tahun, sebelum bertemu dan berguru pada Imam Malik, sang penyusun kitab hadits itu.

Selain keistimewaannya dalam menghafal, Syafi’i yang mulai tumbuh remaja juga berlatih memanah dan berkuda. Ia menjadi ahli dalam kedua jenis olah raga yang dianjurkan Rasulullah itu. “Setiap sepuluh anak panah yang kuluncurkan, semuanya tepat mengenai sasaran,” kata Imam Syafi’i beberapa tahun kemudian kepada para muridnya.

Imam Syafi’i mengasah kedua keterampilan itu sewaktu di dusun, yakni kaum Hudzail. Di sanalah Syafi’i menetap beberapa tahun, yang tujuan utamanya adalah mempelajari bahasa Arab yang murni, sejarah dan ilmu nasab, serta syair. Setelah selesai Syafi’i kembali ke Makkah sebagai seorang penyair, dengan hafalan Qur’an dan Al-Muwatha’ yang masih terjaga.

Untuk beberapa waktu Imam Syafi’i terkenal sebagai penyair andal. Hingga suatu saat salah seorang keluarga pamannya mengatakan sesuatu yang akhirnya menjadi awal kemuliaan Imam Syafi’i. “Wahai Abu Abdullah, aku sangat menyayangkan jika kefasihan bahasa dan kecerdasanmu ini tidak disertai dengan ilmu fikih. Dengan ilmu fikih, kau akan memimpin semua generasi zamanmu,” katanya, menyentakkan Imam Syafi’i.

Singkat cerita, Imam Syafi’i akhirnya diterima menjadi murid Imam Malik. Semula ia ditolak, tetapi demi melihat kesungguhan pemuda ini dan kehebatannya yang telah menghafal Al-Muwatha’, Imam Malik menerimanya.

Kita mengenal Imam Syafi’i sebagai ulama fikih dan imam mazab yang besar. Namun, kehebatan Imam Syafi’i tidak terbatas pada bidang itu. Seperti disinggung di atas, Imam Syafi’i adalah seorang sastrawan dan ahli bahasa. Ahli nasab dan sejarah. Ia juga terampil dalam berkuda dan memanah. Selain itu, Imam Syafi’i juga ahli ilmu falak dan memiliki ilmu dasar kedokteran.

Subhanallah. Demikianlah ilmu Imam Syafi’i yang membuat kita terkagum-kagum. Namun akhlak dan keteladanannya tak kalah menawan. Karenanya, ia tidak hanya dimuliakan orang-orang yang berilmu, tetapi juga dicintai oleh masyarakat umum.
Dapatkah kita atau bahkan anak cucu kita meniru beliau?

Bisa dibayangkan betapa kesungguhan para ulama dalam menuntut ilmu itu sangatlah tinggi. Kita yang diberi karunia berupa rezeki yang cukup dan umur yang masih muda sudah seharusnya bisa lebih semangat lagi di dalam menuntut ilmu agama.

Islam merupakan pedoman hidup manusia menuju pada kehidupan yang sejahtera di dunia dan kebahagiaan di akhirat. Segala aspek kehidupan manusia sudah diatur oleh ajaran Islam, baik dunia maupun akhirat. Selalu ada keseimbangan yang Allah berikan kepada setiap makhluk-Nya. Seimbang dalam dunia maupun akhirat. Begitu banyaknya keutamaan menuntut ilmu agama. Semoga bisa membuat kita semua semangat untuk mempelajarinya dan mendapatkan keutamaannya.

Jika ilmu dunia dan ilmu akhirat kita kuasai, maka akan lebih mudah jalan hidup kita menuju akhirat kelak. Apakah ilmu kita sudah seimbang? Teruslah mengevaluasi diri agar nanti sampai kesimpulan dan keyakinan bahwa ilmu Allah itu sangatlah luas. Yakinlah bahwa Allah akan terus bersama kita. Allah memberikannya agar kita benar-benar menjadi hamba-Nya yang beriman dan berilmu. 🙂

Referensi: bersamadakwah.com

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s