Islam dalam Memandang dan Memaknai Hari Kemerdekaan

ilustrasi bendera.pngilustrasi

Assalamu’alaikum kawan…. ^^

Alhamdulillah kawan, akhirnya tulisan pertama mimin selesai juga!! Terharu jadinya mimin, kasih applause donk, hehe… ^^
Kawan-kawan pasti masih ingat sekali dengan momen bersejarah negeri Indonesia kita ini yang baru saja terjadi dan masih hangat diperbincangkan di bulan Agustus ini. Selain itu momen ini sangat fenomenal bagi negara kita. Ya, tidak lain tidak bukan adalah Hari Kemerdekaan RI ke-70…

Hmmm, seperti yang kawan ketahui, setiap daerah akan mempunyai cara tersendiri untuk merayakan hari kemerdekaan ini. Namun, setiap daerah pasti akan merayakan Hari Kemerdekaan ini dengan mengadakan upacara bendera dan mengadakan berbagai macam perlombaan yang diadakan oleh instansi-instansi pemerintahan. Selain itu, terdapat berbagai karnaval dari tingkat TK sampai tingkat sekolah menengah atas yang memenuhi jalanan. Pada umumnya mereka memakai pakaian berbagai macam profesi seperti, dokter, guru, polisi, tentara, ataupun mengenakan pakaian adat dari masing-masing daerah di Indonesia. Tak kalah menarik, gerbang desa dan jalanan sepanjang desa ataupun kota penuh dengan bendera merah putih dan umbul-umbul yang dikemas dengan sangat menarik. Berbagai macam perlombaan pun digelar. Seingat mimin nih ya, ada lomba makan kerupuk, mengambil koin dari semangka ataupun memasukkan koin ke dalam botol, panjat pinang, balap karung, dan lomba membawa kelereng dengan sendok. Waaah, kalau diingat-ingat lagi, semarak sekali deh perayaan 17 Agustus ini, hehe…

Buat kawan semua mimin punya pertanyaan klasik nih, tapi selalu relevan untuk dipertanyakan:

                   Apakah kita sudah benar-benar merdeka??
Sudah Merdeka??

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, merdeka artinya bebas dari penghambaan, penjajahan, dll; berdiri sendiri; tidak terkena atau lepas dari tuntutan; tidak terikat, tidak bergantung kepada orang atau pihak tertentu; atau leluasa. Hmmm, lantas mimin mengulang pertanyaan mimin kembali, apakah kita sudah benar-benar merdeka? Jawabannya seperti yang kawan semua ketahui, kita memang sudah merdeka dari penjajahan secara fisik. Namun, kita harus sadar bahwa di lain sisi kita sekarang ini sebenarnya masih terbelenggu oleh penjajahan yang bersifat nonfisik. Penjajahan yang bersifat nonfisik dapat berupa penjajahan opini. Para penjajah baru dalam rangka menguasai dunia, termasuk menguasai negeri kita, telah mensosialiasikan dan mempermainkan berbagai macam isu, seperti isu HAM, demokratisasi, jender, dan perdagangan bebas.

Selain itu, penjajahan yang tidak kalah hebatnya adalah penjajahan budaya. Seperti yang kawan ketahui, bangsa Indonesia mayoritas muslim, bahkan populasi muslimnya terbesar di dunia. Anehnya, mengapa budaya dan gaya hidup di Indonesia jauh lebih mendekati budaya-budaya asing yang hedonis, materialis, dan merusak daripada gaya hidup yang islami? Tentu miris melihatnya bukan?? Budaya inilah yang menjajah kita dan membuat kita semakin dan semakin terlena, lemah dan terus terjajah tanpa kita sadari.

Kemudian, apa arti kemerdekaan menurut Alquran? Dani Muhtada dalam Suara Merdeka (15/8) menjelaskan bawha dalam Alquran ditunjukkan berbagai kisah kemerdekaan orang-orang terdahulu yang dapat mengilhami kita, bagaimana seharusnya menjadi bangsa merdeka di era globalisasi.


Pertama, diambil dari kisah Nabi Ibrahim dalam Surat Al-An’am:76-79 yang mengisahkan perjalanan spiritual Nabi Ibrahim dalam mencari Tuhan. Masyarakat Ibrahim pada saat itu menyembah berhala. Bagi Ibrahim, penyembahan berhala merupakan kesalahan besar karena manusia telah melakukan penghambaan yang justru menjatuhkan harkat dan martabat mereka sendiri. Bentuk penghambaan seperti itu juga terjadi pada era modern saat ini, yaitu berupa penghambaan terhadap materialisme dan hedonisme.

Kedua, diambil dari kisah Nabi Musa saat membebaskan bangsanya dari penindasan Firaun. Rezim Firaun merupakan representasi komunitas yang menyombongkan diri dan berkuasa di muka bumi. Hal tersebut mendorong Musa memimpin bangsanya untuk membebaskan diri dari penindasan, dan meraih kemerdekaan sebagai bangsa yang mulia dan bermartabat (QS Al-A’raaf:127, Al-Baqarah: 49, dan Ibrahim:6). Pada era modern ini, mengakhiri keangkuhan seperti kisah Nabi Musa di atas, yaitu mengakhiri masa rezim kolonial yang membuat bangsa kita miskin dan terhina. Meskipun demikian tidak serta merta membebaskan rakyat Indonesia dari keangkuhan dan penindasan rezim lain.

Ketiga, kisah sukses Nabi Muhammad dalam mengemban misi profetiknya di muka bumi (QS Al-Maa’idah:3) menjadi sumber ilham yang tak pernah habis bagi bangsa Indonesia untuk memaknai kemerdekaan. Ketika diutus 14 abad silam, Nabi Muhammad menghadapi sebuah masyarakat yang mengalami tiga penjajahan sekaligus: disorientasi hidup yang dijelaskan dalam QS Luqman:13; Yusuf:108; Adz-Dzaariyaat:56; Al-Jumu’ah:2, penindasan ekonomi dijelaskan dalam QS Al-Hasyr: 7, dan kezaliman sosial dijelaskan dalam QS Al-Humazah:1-4; Al-Maa’uun:2-3. Rasulullah mengkampanyekan pembebasan budak, kesetaraan laki-laki dan perempuan, dan kesederajatan bangsa-bangsa. Selain itu beliau menegaskan bahwa tak ada perbedaan antara manusia di hadapan Allah SWT yang membedakan adalah tingkat ketakwaan mereka kepada Allah SWT (QS Al-Hujuraat:13).

Dari penjelasan di atas mimin menyimpulkan bahwa sebagai umat Islam, tentunya merdeka bukanlah semata merdeka dari penjajah, berhasil mengganti konstitusi sendiri tanpa campur tangan pihak asing, ataupun merdeka dalam arti politik dan ekonomi, tetapi makna merdeka dalam agama kita Islam yang lebih kepada kemerdekaan ruhani dari segala yang membelenggu ruh itu. Islam datang membawa konsep kemerdekaan hakiki, yaitu menjadikan manusia, sebagai manusia seutuhnya. Islam membawa manusia kepada penghambaan yang hakiki, yaitu penghambaan kepada Allah SWT pencipta semesta alam yang berhak disembah. Selain itu, dalam Islam semua manusia sama, semua manusia merdeka. Tak kalah penting Islam datang menawarkan konsep kemerdekan yang sempurna, yaitu merdeka dari nafsu diri dan dunia.

Kawan… kita sebagai seorang muslim tidaklah pantas apabila kita memandang kemerdekaan hanyalah momen perginya penjajah dari negeri kita, sedangkan hati dan pikiran kita masih terjajah. Hati senantiasa sibuk mencari kebahagiaan dunia dan melalaikan urusan akhirat. Pikiran tak lagi terfilter dan terpengaruh oleh modernisasi global yang menjadikan gaya hidup seorang muslim seperti penjajah. Nafsu pun terjajah oleh kehidupan dunia. Apabila segala cara dihalalkan untuk memenuhi nafsu tersebut, maka manusia akan terjerumus dalam kemaksiatan. Hal ini jelas akan menjadikan manusia tidak merdeka.

Kawan, sudah tiba saatnya nih kita yaitu umat Islam Indonesia berdamai di momentum Kemerdekaan Republik Indonesia ini.
Bagaimana caranya?? Hmmm, momentum ini hendaknya kita isi sebagai seorang muslim yang hakiki. Kita harus sadar dan taat kepada aturan-aturan Allah SWT, selain itu kita juga harus mengikuti segala petunjuk Rasulullah SAW. dengan meretas berbagai jeratan dan ikatan Aqidah dari benak kita, lalu kita amalkan ke lingkungan sekitar kita.

Ingat kawan!! Jangan pernah lagi merayakan hari kemerdekaan dengan hura-hura yang bahkan sampai bertentangan dengan aturan Allah dan membawa kita kepada kemaksiatan. Ingat!! Kemerdekaan bangsa Indonesia ini adalah karunia dari Allah untuk bangsa kita. Jika lupa, bukalah pembukaan UUD 1945, disana tercantum bahwa ”Atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa bangsa Indonesia telah mencapai kemerdekaannya”. Jadi, kawan-kawan tidak boleh naif melakukan perbuatan yang “kurang ajar” kepada Allah SWT yang memberi nikmat kemerdekaan, tetapi juga “kurang ajar” kepada para pahlawan yang telah gugur demi terwujudnya kemerdekaan Indonesia.

Selamat Dirgahayu RI ke-70 Kawaan!!!
Semoga kita benar-benar sudah MERDEKA.
Merdeka dari maksiat, Merdeka dari rasa malas, Merdeka dari penyakit hati, Merdeka dari segala yang buruk dan Semoga Indonesia ini merdeka dari pemimpin yang dzalim, Aamiin..:)
Wallahu a’lam bi ash-shawab.

Akhir kata, Mimin mohon maaf yak apabila terdapat banyak salah kata dalam penulisan ini.
Wassalamu’alaikum wr wb.

Sumber:
Memaknai Kemerdekaan
Makna Kemerdekaan Dalam Alquran
Memaknai Hari Kemerdekaan

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s